Make your own free website on Tripod.com

   Unggas Indonesia
   Membangun Industri Perunggasan Nasional Mandiri

www.alabio.cjb.net

Home

Sponsor

Buku Tamu

e-mail

Profil Surat2 Periklanan FAQ

Grinding


Grinding adalah proses pengurangan ukuran partikel bahan dari bentuk kasar menjadi ukuran yang lebih halus untuk menyempurnakan proses mixing yaitu hasil pencampuran yang merata dan menghindari segregasi partikel-partikel bahan. Grinding menggunakan hammermill ataupun rollermill.

Tujuan utama dari proses grinding adalah :
1. Meningkatkan luas permukaan partikel bahan terhadap sistem pencernaan sehingga
    meningkatkan daya cerna bahan
2. Memperbaiki cara penanganan terhadap bahan baku
3. Memperbaiki karakteristik mixing dari setiap bahan baku sehingga bisa diperoleh
    hasil mixing yang lebih homogen.
4. Meningkatkan efisiensi pelleting dan kualitas pellet karena persentase tepung bisa
    dikurangi dan mengurangi pekerjaan ulang dari proses pelleting akibat banyaknya
     tepung yang kembali ke sistem pellet.
5. Memuaskan selera konsumen dalam hal ini peternak karena tampilan pakan menjadi
     lebih baik.

Bahan - bahan yang harus melewati proses grinding adalah jagung, sorghum, cassava chips, groundnut meal, rape seed meal, linseed meal, soyabean meal, copra meal, dll. Kebanyakan sumber protein asal hewani sudah dalam bentuk halus sehingga tidak perlu digiling. Sistem feedmill mengadopsi teknik grinding dengan 2 pendekatan yaitu sistem pre grinding dan post grinding. Pada sistem pre grinding, semua bahan baku kasar yang harus dihaluskan akan masing-masing menjalani proses grinding untuk kemudian ke tahap mixing. Sistem ini cocok untuk pakan tepung khususnya ayam pe
telur dan memungkinkan mengatur komposisi ukuran partikel hasil grinding sehingga tidak semua ukuran partikel akhir menjadi seragam menyebabkan tampilan pakan lebih menarik misalnya ukuran jagung yang lebih besar sehingga terlihat lebih kuning. Pada sistem post grinding, hasil mixing akan disalurkan ke hammer mill untuk proses grinding yang kedua kalinya. Dengan cara ini akan diperoleh hasil pakan yang sangat halus dan kualitas pellet yang jauh lebih baik. Sistem post grinding cocok untuk feedmill dimana persentase pakan pellet atau butiran sangat dominan.

Mengingat beban mesin dan getaran yang ditimbulkan, proses grinding dilakukan di lantai satu. Peran grinding sangat penting karena hampir 75 % komponen bahan baku yang digunakan harus menjalani proses grinding sebelumnya. Feedmill berkapasitas mulai 20 tph sebaiknya mempunyai  minimal 2 unit hammermill yang bisa dioperasikan sekaligus atau sebagai cadangan apabila salah satu mesin sedang menjalani perbaikan atau perawatan. Proses grinding berkaitan dengan ukuran partikel bahan karena ukuran partikel yang bisa dihasilkan sangat dipengaruhi oleh ukuran diameter saringan yang digunakan dan kecepatan putaran pisau. Diameter saringan 3 mm pada kecepatan putaran tinggi cukup untuk menghasilkan partikel-partikel berdiameter < 2 mm yang sudah cukup halus untuk menjaga kualitas pellet. Ukuran diameter saringan yang lebih besar digunakan untuk bahan yang sedikit kekasaran bentuknya masih diperlukan dalam pakan. Jagung bisa menggunakan 2 tipe diameter saringan besar (4 - 5 mm) dan kecil (3 mm) dan hasil gilingan disimpan dalam bin terpisah untuk digunakan dalam persentase berbeda sewaktu proses batching. Kombinasi ini biasanya digunakan untuk produksi pakan tepung pada ayam petelur.

Karakteristik bahan menentukan efisiensi grinding. Bahan dengan kadar air tinggi akan mempersulit grinding karena bahan cenderung lengket dan sulit keluar dari lubang saringan. Bahan kering cenderung cepat keluar dari ruang grinding tetapi menimbulkan lebih banyak debu. Benturan pisau hammermill dengan partikel bahan akan menimbulkan panas terlebih apabila partikel bahan tidak cepat keluar dan cenderung berputar-putar dalam ruang grinding. Oleh karena itu hammer mill telah diperlengkapi dengan alat bantu penyedot debu sehingga partikel bahan cepat keluar dari ruang grinding.

Gambar 1. Siklus Grinding (Feed Manufacturing Technology, p 82, Robert R McElhiney)

Kembali ke Panduan Teknologi Pakan